Manusia adalah makhluk
ciptaan Tuhan yang paling sempurna di bumi ini. Manusia memiliki segala potensi
yang ada pada dirinya karean manusia memiliki kemampuan untuk berfikir. Dengan
segala kemampuan yang dimilikinya layaknya manusia harus mampu mengembangkan
ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan adalah senjata manusia untuk
menguasai atau memperdayakan alam seisinya. Akan tetapi dalam mengembangkan
manusia membutuhkankan kemampuan dalam melogika / menalar. Logika adalah sistem ilmu pengetahuan yang mengajarkan bagaimana
kita berpikir lurus atau benar.
Bentuk penalaran dari
manusia sangat penting dari penalaran mereka dapat dilihat manusia manakah yang
lebih unggul. Dari sekian banyak populasi manusia di bumi ini , hanya sedikit
orang yang memiliki penalaran di atas rata – rata. Orang – orang dengan
penalaran tinggi / inteligensi tinggi merupakan sumber potensial bagi pembangunan, Akan tetapi
untuk menemukannya tidaklah mudah. Salah seorang sarjana bernama
Terman di Amerika Serikat, pada tahun 1920 mencoba mencari anak – anak dengan
kemampuan tinggi, sebanyak 1000 orang. Ternyata dalam mencari anak dengan
kemampuan tinggi, sebanyak 1000 orang
dibutuhkan 500 juta rupiah dijaman itu. Tidak mudah memang tetapi juga tidak
mahal. Anak – anak dengan kemampuan logika di atas rata – rata ini merupaka
aset negara yang diperlukan untuk pembangunan.
Dalam mengembangkan
penalaran harus salah mengkuti kaidah – kaidah tertentu. Diantaranya kemampuan
rasional, logis, Analisis serta Sistematis. Menurut Surisumantri (1996),
penalaran adalah merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai karakterik dalam
menemukan kebenaran.
Berdasarkan hakekat
tersebut maka dapat di jabarkan penalaran sebagai suatu bentuk kegiatan
berpikir logis yang menuntut pola tertentu serta dari penalaran ingin mencari
bentuk – bentuk tertentu diantaranya adalah mencari kebenaran – ketidakbenaran,
manfaat – tidak manfaat, penting – tidak penting. Berikut ini contoh
permasalahan yang ada dalam lingkup hidup manusia berdasarkan penalaran :
Sebuah contoh yang
mungkin telah anda hadapi sewaktu anda ingin menempatkan universitas mana yang
harus anda pilih ? marilah kita anggap bahwa anda diterima di empat
universitas. Sebuah Universi Swasta yang besar ( A ), Sebuah Universitas Swasta
yang kecil ( B ), Sebuah Universitas Negeri yang sedang – sedang saja ( C ),
Sebuah Universitas Negeri yang besar ( D ).
Bagaimana anda akan
memutuskan Universitas mana yang anda ambil ? Salah satu metodenya adalah
mengevaluasi tiap pilihan dalam hal nilai relatif pilihan – pilihan itu pada
dimensi terkait. Dimensi yang penting meliputi ( 1 ) kualitas pengajaran ( 2 )
Biaya ( 3) jarak dari rumah ( 4 ) kesempatan kesempatan kerja lulusan dan ( 5 )
prestise. Masing – masing dimensi akan di beri nilai antara 0 dan 10
Berikut ini adalah sebuah bagan yang tercipta dari model yang
terkait dengan masalah tersebut :
|
DIMENSI
|
Universitas A
|
Universitas B
|
Universitas C
|
Universitas D
|
|
Pengajaran
|
9
|
7
|
6
|
7
|
|
Biaya
|
2
|
3
|
9
|
7
|
|
Jarak
|
4
|
7
|
8
|
3
|
|
Peluang kerja
|
8
|
7
|
3
|
5
|
|
Prestise
|
9
|
10
|
3
|
4
|
|
Total
|
32
|
34
|
29
|
26
|
Jadi dapat disimpulkan
dalam situasi itu kita akan memilih Universitas B dalam pengambilan keputusan
tersebut. Akan tetapi pasti dalam permasalahan yang nyata tidak semudah itu.
Kita harus menganalisis dari model tersebut seperti. Apakah kita sudah secara objektif
dalam memasukkan suatu nilai – nilai tersebut, ataukah kita orang yang
subjektif dalam memilih sehingga memerlukaan bantuan orang lain. Kita ingat
bahwa dalam penalaran haruslah mengikuti kaedah - kaedah tertentu seperti logis
dan rasional. Kita harus lah objektif terhadap fakta karena sifat subjektif
membuat kita salah dalam mengambil suatu bentuk keputusan. Serta kita dapat
memasukan dimensi yang terkait dalam pemecahan masalah tersebut.